Mon. Apr 6th, 2020

Kabar The Jakmania

Informasi seputar Persija terlengkap buat kalian Jak!

SEJARAH BERDIRINYA PERSIJA JAKARTA

SEJARAH BERDIRINYA PERSIJA JAKARTA – Persija didirikan sebulan setelah kelahiran Sumpah Pemuda, pada 28 November 1928. Ketika asosiasi pemuda Jakarta setuju untuk membentuk Voetballbond Indonesische Jacatra (VIJ), mengapa menggunakan Jacatra? karena rasa nasionalisme pemuda Jakarta tumbuh begitu tinggi sehingga mereka mengabaikan kata-kata Batavia sebagai nama Asosiasi Sepak Bola. Selain itu, VIJ juga lahir sebagai perlawanan terhadap Voetballbond Batavia Omstraken (VBO), sebuah asosiasi sepakbola Batavia dari Belanda.

Identitas sebenarnya VIJ

VIJ adalah asosiasi sepakbola murni yang diisi dengan penduduk asli. Nasionalisme anak muda ini tidak dapat dihentikan, sehingga VIJ diberi identitas ‘Merah Putih’ sebagai bentuk kecil dari Indonesia. VIJ juga terdaftar sebagai asosiasi sepak bola yang membantu membentuk Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI), Bapak Soekardi sebagai wakil VIJ dan Iskandar Brata sebagai Ketua Umum pertama VIJ.

Kompetisi PSSI pertama pada tahun 1931, VIJ memenangkan kejuaraan setelah mengalahkan VVB (Solo) dan PSIM (Jogjakarta). Setahun kemudian, VIJ gagal menang. Hanya pada tahun 1933, 1934 dan 1938 VIJ memenangkan kejuaraan.

Di era pendudukan Jepang, vakum sepak bola Indonesia alias tidak ada aktivitas. Kompetisi baru dimulai lagi pada tahun 1951. VIJ pada tahun 1950 mengubah namanya menjadi nama Indonesia, yaitu Asosiasi Sepak Bola Indonesia Jakarta atau yang kita kenal sebagai PERSIJA. Tahun ini juga sejumlah klub VBO yang terdiri dari banyak pemuda adat mulai bergabung dengan Persija Association, yang pertama bergabung adalah Asosiasi Olahraga Bangka Belitong alias BBSA, diikuti oleh Cung Hwa (PS Tunas Jaya), UMS, Maesa, Hercules dll.

Dengan begitu banyak pemain dari VBO, Persija tidak kesulitan menemukan pemain hebat, rata-rata pemain Persija diambil dari UMS dan Cung Hwa yang dalam kompetisi VBO sangat menguasai Kompetisi VBO.

Pemain Legendaris tahun 1954

Beberapa pemain Persija top saat itu adalah Van der Vin, Hong Sing, Him Tjiang, Kwee Tek Liong dan Djamiaat Dalhar dari UMS, kemudian Tan Liong Houw dari Cung Hwa (Tunas Jaya) atau Van der Berg dari BBSA yang berhasil mencuri perhatian orang Jakarta saat itu, sepakbola. Persija akhirnya memenangkan kejuaraan pada tahun 1954 setelah mengalahkan PSMS 2-1. Sepuluh tahun yang lalu, Persija kembali mendominasi Kompetisi PSSI pada tahun 1964. Juara tahun ini benar-benar istimewa, karena pada saat itu Persija tidak terkalahkan dengan pemain muda yang diambil dari Persija Competition. Tangan dingin pelatih legendaris Persija, Drg Endang Witarsa ​​berhasil membawa anak-anak muda ini ke sebuah pesta di Senayan, setelah pertandingan Persebaya Surabaya berhasil dihancurkan.

Dari tangan dingin drg. Endang Witarsa ​​juga lahir sebagai generasi Persija yang hebat seperti Soetjipto Soentoro, Yudo Hadiyanto, Fam Tek Fong, Kiat Seek, Dominggus, Supardi, Didik Kasmara, Surya Lesmana dll. Tentu saja penemuan Soetjipto Soentoro, adalah yang paling terkenal. fenomenal. Ditemukan di pinggiran Gandaria, Kebayoran Lama, Jakarta, pemain ini menjadi maskot Persia pada waktu itu. Gareng adalah sapaan akrab Soetjipto, bahkan Gareng melakukan debut dengan Persija pada usia 16 tahun.

Setelah gagal mempertahankan gelar dalam Kompetisi 1965, yang jatuh ke Persib, Persija hanya mampu mendapatkan kembali gelar sembilan tahun kemudian pada tahun 1973. 70-an bisa disebut era Persija, setelah berhasil menguasai Kompetisi Surat Piala U-18, pemain mogok dan berhasil mempersembahkan gelar untuk Persija senior.

Era ini juga merupakan pemain Persija dengan teknik sepakbola modern. Risdianto, Iswadi Idris, Anjas Asmara, Sutan Harharah, I’im Ibrahim, Oyong Liza, Sumirta, Yudo Hadiyanto et al. tidak hanya menjadi andalan di Persija tetapi juga di tim nasional Indonesia saat itu. Di era ini pemirsa sepak bola Indonesia selalu disuguhi permainan teknologi tinggi dari Persija. Jadi tidak heran Persija memenangkan kejuaraan pada tahun 1973, 1975 dan 1979. Persija hanya gagal menang di era ini pada tahun 1971 dan 1977.

Reformasi Pemain

Setelah 70-an, Persija mengalami reformasi pemain di tahun 80-an. Dengan tidak menghilangkan ciri khasnya, yang merupakan permainan keterampilan tinggi, tim yang identik dengan warna Merah sedikit menurun di era ini. Setelah gelar 1979, Persija berani menurunkan pemain muda termasuk salah satunya adalah Reva Deddy Utama.

Persija hampir terdegradasi pada tahun 1985. Persija diselamatkan dengan gelar Little 4 yang dipegang oleh PSSI untuk menentukan siapa yang diturunkan ke Divisi I PSSI dan siapa yang dipromosikan ke Divisi Utama PSSI. Nyaris degradasi menjadikan Ketua Persija saat itu, ir Todung Barita Lumbanraja berniat menjadikan Persija Football School sebagai sarana mencari bibit muda untuk Persija.

Setelah 1985, Persija perlahan mulai bangkit dan kembali mengacak-acak arena Divisi Utama PSSI. Di era ini, pertikaian baru dengan Persib Bandung menajam tajam. Persija, yang pada waktu itu dipenuhi dengan pemain-pemain dari tim nasional PSSI, seperti Tony Tanamal, Patar Tambunan dan Agus Waluyo, mulai mengganggu dominasi Persib di tahun 80-an. Harus diakui bahwa tahun 80-an adalah era Persib, jadi ketika Persija mulai bangkit kembali, Persib menjadi ancaman serius.

Persija era ini tidak menghasilkan gelar, hanya runner-up pada 1988 dan tempat ketiga pada 1990 tidak serta-merta membuang karakteristik Persija yang bermain teknik tinggi. Pelatih Sugih Hendarto adalah maestro Persija di zaman itu, teman Wiel Coerver telah menjadikan Persija tim yang sangat menarik dan tim yang telah ditunggu-tunggu oleh pecinta sepakbola Indonesia pada waktu itu, bahkan oleh Bobotoh.

90-an Persija merosot dengan ketidakmampuan nyata Persija untuk bersaing ke Cimahi, Bandung untuk menghadapi Persikab di Liga Indonesia yang berlanjut. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama, ketika Gubernur DKI Jaya saat itu, Sutiyoso mulai memperhatikan Persija. Perlahan, Bang Yos membangun jamannya di Persija, mulai mendatangkan mantan pemain Bandung Raya yang putus untuk mengubah warna kostum Persija yang telah menemani perjalanan Persija selama bertahun-tahun.

Persija Masa Kini

Jadilah Persija era Bang Yos, yang berwarna oranye dan memiliki tahta di Lebak Bulus dengan berbagi tempat dengan pemiliknya, Pelita Jaya. Era Persija Bang Yos mulai dihitung ulang sebagai kandidat untuk sang Juara. Setelah hampir menunggu selama dua puluh dua tahun, gelar tertinggi Sepak Bola Indonesia dimenangkan oleh Persija pada tahun 2001. Harmonisasi dari manajemen kepada para pendukung The Jakmania menjadikan Persija tim yang solid sehingga gelar itu sebenarnya hanya masalah waktu.

Persija berhasil mengalahkan PSM Makassar 3-2 melalui gol Imran Nahumarury dan dua gol dari legenda Persija saat ini, Bambang Pamungkas. Musim berikutnya Persija gagal mempertahankan gelarnya, dan sampai sekarang Persija belum memenangkan gelar Liga Indonesia yang sekarang disebut Liga Super Indonesia (ISL). Kompetisi era Oranye baru mengumpulkan gelar PSSI tertinggi dan Piala Undangan Brunei dua kali pada tahun 2000 dan 2001.

Bahkan sedih ketika identitas semua Persija berubah dari merah menjadi oranye, Persija juga kehilangan Stadion Menteng yang diusir oleh “pelatih” sendiri. Ini berbanding terbalik dengan M.H. Thamrin sebagai pelatih Persija ketika masih dipanggil VIJ, Bang Thamrin mati-matian mencari VIJ atau Persija untuk memiliki ladangnya sendiri di daerah Petojo, dengan 2.000 gulden, Bang Thamrin membeli tanah untuk fasilitas pelatihan VIJ / Persija, memainkan kompetisi VIJ dan sangat fasilitas bermain yang penting bagi masyarakat Jakarta.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.